MANUSIA
SEBAGAI OBJEK DAN SUBJEK ILMU
PENDIDIKAN
Sebuah
Kajian atas Studi Lapangan Ilmu Sosiologi
Siswa-siswi
SMAK Fides Quaerens Intellectum Kefamenanu di Desa Tapenpah

smakfideskefa.blogspot.com – Pada dasarnya manusia sebagai objek dan subjek ilmu pendidikan. Hal ini hendak
menegaskan beberapa hal: pertama,
memahami hakikat manusia
yang menjadi objek pendidikan; kedua, memahami hakikat
manusia yang menjadi
objek dan sekaligus
subjek pendidikan; ketiga, memahami proses pendidikan yang seharusnya dilakukan setelah memahami hakikat manusia
yang menjadi objek dan sekaligus subjek pendidikan.
Sebagai objek pendidikan, manusia khususnya anak-anak menjadi sasaran untuk
melaksanakan proses pendidikan. Sedangkan sebagai subjek pendidikan, manusia
bertanggung jawab menyelenggarakan pendidikan. Setiap manusia harus mendapatkan
pendidikan yang menyentuh dimensi dasar kemanusiaan.
Sebab melalui pendidikan akan dihasilkan manusia-manusia yang memiliki nilai moral
dan etika yang baik pula. Mendidik manusia
bermaksud mendidik insaniah
manusianya. Insaniah manusia
terdiri dari empat elemen, yaitu akal, roh atau hati, nafsu dan fisikal atau jasmani. Keempat
elemen inilah yang perlu dididik
dan dibentuk agar dapat
berkembang menjadi pribadi-pribadi yang unggul dan bermartabat.
Pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan serta menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran
yang baik, agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi diri untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Sementara ilmu pendidikan merupakan
ilmu pengetahuan yang mempelajari masalah
membimbing peserta didik kearah tujuan tertentu, yaitu mampu secara mandiri menyelesaikan tugas
mandirinya. Lapangan pembahasan ilmu pendidikan dari
segi objek materialnya adalah manusia;
sedangkan objek formalnya
(sudut pandangannya) adalah kegiatan menusia
dalam membimbing perkembangan kepribadian dan kemampuan
manusia lain ke arah tujuan yang diharapkan.
Upaya itu terintegrasikan dalam kajian tentang pendidikan seperti kajian historis,
filosofis, psikologis, dan sosiologis. Aktivitas
yang dilakukan juga tidak
terlepas dari aktivitas pendidikan, yaitu aktivitas
mendidik dan dididik
serta pemikiran yang sistematis tentang
pendidikan.
Indonesia
memiliki potensi keindahan alam dan kekayaan budaya yang bernilai tinggi dalam
pasar industri Ekowisata. Potensi alam tersebut dapat berupa sumberdaya alam
hayati dan ekosistemnya, keanekaragaman flora, fauna dan gejala alam dengan
keindahan pemandangan yang masih alami. Untuk kebudayaan, Indonesia memiliki
sistem religi, kesenian, bahasa daerah, ritus kebudayaan, pengetahuan, dan
organisasi sosial. Berdasarkan laporan World Travel Tourism Council (WTTC)
Tahun 2000 pertumbuhan Ekowisata rata-rata sebesar 10 persen per tahun. Angka
tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan rata-rata per tahun untuk
pariwisata pada umumnya yaitu sebesar 4.6 persen per tahun. Sebagai bentuk
wisata, Ekowisata mempunyai kekhususan tersendiri yaitu mengedepankan
konservasi lingkungan, pendidikan lingkungan, kesejahteraan penduduk lokal, dan
menghargai budaya lokal, sehingga Ekowisata banyak diminati wisatawan. Hal ini terjadi
karena adanya pergeseran paradigma kepariwisataan internasional dari bentuk
pariwisata masal (mass tourism) ke wisata minat khusus yaitu Ekowisata. Pengembangan
Ekowisata tentu akan memberikan pengaruh terhadap kehidupan masyarakat,
sehingga terjadi perubahan dalam aspek ekologi sosial dan ekonomi masyarakat
setempat.

Tapenpah
adalah sebuah desa yang berada di Kecamatan Insana, Kabupaten Timor Tengah
Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Berdasarkan data yang diperoleh
dari website milik desa Tapenpah dan wawancara singkat dengan Kepala Desa
Tapenpah, luas desa ini sekitar 25 km2 dengan populasi penduduknya berjumlah 1.216
jiwa per 31 Desember 2022, dan kepadatan 113 jiwa/km2. Jumlah penduduk
Desa Tapenpah tahun 2022 berjumlah 1.216 jiwa, dimana laki-laki sebanyak 582
jiwa dan perempuan sebanyak 634 jiwa. Desa Tapenpah memiliki 8 Rukun Tetangga
(RT), 4 Rukun Warga (RW) dan 3 dusun. Penduduk asli Timor Tengah Utara
ialah suku Timor, Tetum, Dawan dan beberapa pendatang dari wilayah lain di Nusa
Tenggara Timur maupun luar provinsi, demikian juga yang ada di desa ini.
Dibawah kepeminpinan Bapak Thomy Sikone – selaku Kepala
Desa Tapenpah – pembangunan desa lumayan berkembang. Hal ini terlihat dari
beberapa terobosan yang dilakukan oleh kepala Desa Tapenpah, antara lain: sistem
administrasi berbasis online dan website desa. Salah satu hal yang menjadi
fokus perhatian saat ini adalah di bidang sektor pariwisata. Berkat kerja keras
seorang Kepala Desa, Thomy
Sikone bersama masyarakat telah menyulap sebuah area di pinggiran kali Noenebu
menjadi sebuah spot wisata eksotis yang kini banyak diminati pengunjung.
Lokasinya sangat indah dan sejuk karena masih tergolong asli dan
dikelilingi oleh pohon-pohon. Air di sepanjang aliran sungai tersebut juga
belum tercemar oleh limbah sampah karena masyarakat masih memelihara dan
menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.
Pada
hari Sabtu, 24 Februari 2024, siswa-siswi SMAK Fides Quaerens Intelectum Kefamenanu
kelas XII Program Studi ilmu Sosial melaksanakan studi lapangan di Ekowisata di
Desa Tapenpah. Rombongan siswa-siswi ini didampingi langsung oleh tiga orang
guru yakni Bapak Matias Subani, M.Pd, Bapak Wandelinus Manikin, S.Fil, Gr dan
Bapak Maximus Kalau S.Pd. Tujuan kunjungan ini adalah sebagai studi lapangan
ilmu Sosiologi dalam kaitan dengan nilai-nilai budaya dan ritual kebudayaan
lainnya yang masih dijaga dan diperlihara oleh masyarakat Dawan, khususnya
masyarakat Desa Tapenpah.

Siswa-siswi yang turun lapangan untuk mempelajari Sosiologi dalam kegiatan "sosmamat" (Sosiologi Mengamati Masyarakat) disambut dengan sangat meriah oleh Kepala Desa dan seperangkatnya. Tema kegiatan "sosmamat" kali ini adalah: "kearifan lokal". Di desa Tapenpah mereka dapat mengamati secara langsung bagaimana pembangunan di desa dilakukan berbasis kearifan lokal masyarakat Dawan.
Kegiatan
tersebut dilanjutkan dengan wawacara khusus dengan kepala desa dan beberapa
warga desa guna mengkaji ilmu Sosiologi dengan praktek-praktek kebudayaan yang
ada dan berkembang di tengah masyarakat Desa Tapenpah. Kegiatan "sosmamat" inilah yang diharapkan dapat diterapkan oleh para siswa agar mereka mampu mengatasi berbagai masalah sosial yang timbul di masyarakat akibat arus globalisasi dan modernisasi berbasis kearifan lokal. Dalam kesempatan
yang sama, Bapak Matias Subani, M.Pd selaku pimpinan rombongan mengatakan bahwa
kunjungan ini dalam rangka “mengawinkan” antara yang abstraksi dan yang empirik;
antara empirik dan abstraksi ada korelasi, selalu berjalan bersama demi sebuah
kepentingan masa depan yakni ilmu pengetahuan, dan juga peserta didik itu
sendiri.
Sebagai informasi, letak lokasi Ekowisata di desa Tapenpah
ini terbilang cukup strategis karena teletak dipinggiran jalan Trans nasional
Kupang-Atambua-Dili; dan ini tentu saja sudah pasti memantik perhatian pengguna
jalan tersebut. Selain dihiasi lampu kerlap-kerlip yang memanjakan mata, pada
lokasi tersebut juga dilengkapi dengan suguhan alunan musik yang bisa diputar
sesuai keinginan pengunjung, serta para pedagang kaki
lima yang siap memenuhi permintaan pengunjung dengan makanan ala pangan lokal.
Berdasarkan hasil obrolan, Thomy (nama sapaan untuk Kepala Desa Tapenpah) mengungkapkan, pihaknya telah berusaha
untuk memenuhi ekspektasi pengunjung sehingga di lokasi Ekowisata tersebut juga
telah dilengkapi dengan kamar mandi dan tempat pembuangan sampah untuk menjaga
agar kebersihan lokasi tersebut tetap terjaga. Ia menuturkan, saat ini
setiap wisatawan yang berkunjung dikenakan biaya masuk sebesar Rp 3.500 per
orang. Thomy berharap bahwa di waktu yang akan datang, lokasi Ekowisata
Tapenpah ini akan terus dikembangkan dengan memperluas arealnya, dan akan
menambah spot wisata baru yakni flying
fox dan wisata kuliner lokal. Selain itu, Thomy juga menambahkan
bahwa pihaknya bersama masyarakat sedang merencanakan untuk membuat area parkir
sehingga tidak mengganggu arus lalulintas di wilayah tersebut.***