Kamis, 29 Februari 2024

  •  LITERASI SEBAGAI BUDAYA SMAK FIDES

smakfideskefa.blogspot.com - Undang-undang Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan, pada pasal 4 butir C, mengatakan  bahwa tujuan penyelenggaraan sistem perbukuan adalah untuk menumbuhkembangkan budaya literasi bagi seluruh Warga Negara Indonesia. Sebelumnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti melalui pembiasaan membaca selama 15 menit sebelum belajar. Menindaklanjuti amanat peraturan perundang-undangan tersebut, Kemendikbud melalui Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan terus berupaya meningkatkan pengadaan buku bacaan di sekolah dan komunitas.

Dengan terbitnya peraturan tersebut, maka literasi menjadi salah satu agenda pembelajaran di setiap satuan pendidikan. Artinya diharapkan agar setiap satuan pendidikan dapat mengembangkan budaya literasi sesuai dengan situasi dan kondisi sekolahnya masing-masing. Merujuk pada maknanya, kata literasi dapat dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. Dalam perkembangannya, definisi literasi selalu berevolusi sesuai dengan tantangan zaman. Jika dulu definisi literasi adalah kemampuan membaca dan menulis, saat ini, istilah “literasi” sudah mulai digunakan dalam arti yang lebih luas; bahkan sudah merambah pada praktik kultural yang berkaitan dengan persoalan sosial dan politik.

Definisi baru dari literasi menunjukkan paradigma baru dalam upaya memaknai literasi dan pembelajarannya. Kini ungkapan literasi memiliki banyak variasi, seperti literasi media, literasi komputer, literasi sains, literasi sekolah, dan lain sebagainya. Hakikat ber-literasi secara kritis dalam masyarakat demokratis diringkas dalam lima verba: memahami, melibati, menggunakan, menganalisis, dan mentransformasi teks. Kesemuanya merujuk pada kompetensi atau kemampuan yang lebih dari sekedar kemampuan membaca dan menulis. Dengan demikian, maka secara etimologis istilah literasi sendiri berasal dari bahasa Latin: “literatus”, dan dapat dimengerti sebagai sebuah kesempatan untuk belajar. Dalam hal ini, literasi sangat berhubungan dengan proses membaca dan menulis.

SMAK Fides Quaerens Intellectum Kefamenanu telah mencoba mengaplikasikan amanat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tersebut dengan mengalokasikan waktu khusus untuk pengembangan budaya literasi sekolah bagi seluruh peserta didik. Kegiatan dimaksud terdiri dari, dua jenis kegiatan, yakni program English Speaking dan program penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI). Pertama, untuk program English Speaking diterapkan kepada semua siswa dari kelas X-XII. Setiap siswa akan mendapat giliran sesuai jadwal yang sudah dirancang oleh badan pengurus OSIS. Seksi akademik dari badan pengurus OSIS akan merancang jadwal sehingga setiap siswa mendapat kesempatan untuk program English Speaking pada setip apel pagi. Durasi waktu berkisar 5-8 menit. Tema untuk program English Speaking akan disampaikan oleh badan pengurus OSIS pada waktu apel siang hari sehari sebelumnya. Setiap siswa wajib ambil bagian dalam program English Speaking. Kedua, Program Karya Tulis Ilmiah (KTI). Karya Tulis Ilmiah merupakan sebuah program akdemik sekolah yang secara resmi sudah berjalan sejak Tahun Ajaran 2022/2023. Sebelumnya program karya Tulis Ilmiah ini telah disosialisasikan kepada para orang tua dan semua peserta didik sejak masuk kelas X. Program Karya Tulis Ilmiah telah ditetapkan dalam Buku Pedoman Sekolah, bagian Pedoman Akademik Sekolah Bab VII Pasal 37 tentang Penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI) Sekolah. Dalam pasal 37 ayat 1 berbunyi: Karya Tulis Ilmiah (KTI) merupakan tugas akhir bagi peserta didik kelas XII, dan menjadi syarat utama yang harus diselesaikan oleh setiap peserta didik sebelum Ujian Akhir Sekolah (UAS). Ayat 2 berbunyi: Metodologi penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI) diatur tersendiri dalam buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Ayat berbunyi 3: Setiap penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI) minimal harus memiliki tiga (3) buku sumber pendukung berbahasa Indonesia, dan tidak menutup kemungkinan untuk buku referensi yang berhasa asing. Untuk Tahun Ajaran 2023/2024 sudah ada siswa yang membuat Karya Tulis Ilmiah dalam bahasa Inggris. Sedangkan mengenai model bimbingan dan ujian Karya Tulis Ilmiah diatur tersendiri dalam pasal 33 dan 34. Disana dijelaskan bahwa dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah, setiap siswa akan dibimbing oleh 2 orang guru pembimbing, yakni I dan pembimbing II. Kemudian pada tahap Ujian Karya Tulis Ilmiah, akan diujikan oleh 3 orang penguji, yakni penguji I, penguji II dan penguji III, satu orang moderator dan sekertaris. Penentuan standar kelulusan Ujian Karya Tulis Ilmiah, juga telah diatur dalam Buku Pedoman Akademik Sekolah. Jika dalam ujian Karya Tulis Ilmiah, siswa yang bersangkutan nilainya belum mencapai standar sebagaimana diatur dalam Pedoman Akademik Sekolah, maka siswa yang bersangkutan diberi kesempatan untuk ujian ulang, dengan terlebih dahulu melakukan proses bimbingan dan konsultasi untuk perbaikan dengan guru pembimbing I dan guru pembimbing II.

Proses bimbingan

Tujuan dari program Penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI) ini selain sebagai aplikasi literasi sekolah, sebagaimana yang telah dicanangkan oleh Pemerintah, juga sebagai persiapan bagi siswa-siswi sebelum masuk Perguruan Tinggi. Gambaran dunia akademik di Perguruan Tinggi, baik dari aspek mental maupun kualitas akademiknya sudah diperkenalkan kepada peserta didik sejak dini. Berdasarkan hasil koesioner yang diberikan kepada para alumni, pada umumnya memberikan kesan yang sangat positif. Para alumni juga merasakan dampak positif dari program Karya Tulis Ilmiah ini. Pada umumnya berkomentar bahwa mereka tidak merasa “kaget” karena metodologi dan sistematika penulisan Karya Tulis Ilmiah sudah mereka alami dan dapatkan ketika masih duduk di bangku SMAK Fides Quaerens Intellectum Kefamenanu. Dalam pelaksanaan bimbingan Karya Tulis Ilmiah ini, siswa-siswi diarahkan dan diberi pemahaman, mulai dari pemilihan tema, membuat kerangka tulisan, teknik penulisan sampai dengan bagaimana mempertanggungjawabkan hasil karya Karya Tulis Ilmiah ini pada pada saat ujian. Harapannya, semoga kedepan program ini menjadi sebuah inovasi bagi peserta didik dalam membudayakan literasi sekolah menjadi sebuah habitus bagi semua warga SMAK Fides Quaerens Intellectum Kefamenanu.***





Senin, 26 Februari 2024

Kegiatan "sosmamat" Siswa-siswi SMAK Fides Quaerens Intellectum Kefamenanu di Desa Tapenpah

MANUSIA SEBAGAI OBJEK DAN SUBJEK  ILMU PENDIDIKAN
Sebuah Kajian atas Studi Lapangan Ilmu Sosiologi
Siswa-siswi SMAK Fides Quaerens Intellectum Kefamenanu di Desa Tapenpah

 

 

smakfideskefa.blogspot.comPada dasarnya manusia sebagai objek dan subjek ilmu pendidikan. Hal ini hendak menegaskan beberapa hal: pertama, memahami hakikat manusia yang menjadi objek pendidikan; kedua, memahami hakikat manusia yang menjadi objek dan sekaligus subjek pendidikan; ketiga, memahami proses pendidikan yang seharusnya dilakukan setelah memahami hakikat manusia yang menjadi objek dan sekaligus subjek pendidikan. Sebagai objek pendidikan, manusia khususnya anak-anak menjadi sasaran untuk melaksanakan proses pendidikan. Sedangkan sebagai subjek pendidikan, manusia bertanggung jawab menyelenggarakan pendidikan. Setiap manusia harus mendapatkan pendidikan yang menyentuh dimensi dasar kemanusiaan. Sebab melalui pendidikan akan dihasilkan manusia-manusia yang memiliki nilai moral dan etika yang baik pula. Mendidik manusia bermaksud mendidik insaniah manusianya. Insaniah manusia terdiri dari empat elemen, yaitu akal, roh atau hati, nafsu dan fisikal atau jasmani. Keempat elemen inilah yang perlu dididik dan dibentuk agar dapat berkembang menjadi pribadi-pribadi yang unggul dan bermartabat.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan serta menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran yang baik, agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,    akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Sementara ilmu pendidikan merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari           masalah membimbing peserta didik kearah tujuan tertentu, yaitu mampu secara mandiri menyelesaikan tugas mandirinya. Lapangan pembahasan ilmu pendidikan dari segi objek materialnya adalah manusia; sedangkan objek formalnya (sudut pandangannya) adalah kegiatan menusia dalam membimbing   perkembangan kepribadian dan kemampuan manusia lain ke arah tujuan yang diharapkan. Upaya itu terintegrasikan dalam kajian tentang pendidikan seperti kajian historis, filosofis, psikologis, dan sosiologis. Aktivitas yang dilakukan juga tidak terlepas dari aktivitas pendidikan, yaitu aktivitas mendidik dan dididik serta pemikiran yang sistematis tentang pendidikan.
Indonesia memiliki potensi keindahan alam dan kekayaan budaya yang bernilai tinggi dalam pasar industri Ekowisata. Potensi alam tersebut dapat berupa sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, keanekaragaman flora, fauna dan gejala alam dengan keindahan pemandangan yang masih alami. Untuk kebudayaan, Indonesia memiliki sistem religi, kesenian, bahasa daerah, ritus kebudayaan, pengetahuan, dan organisasi sosial. Berdasarkan laporan World Travel Tourism Council (WTTC) Tahun 2000 pertumbuhan Ekowisata rata-rata sebesar 10 persen per tahun. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan rata-rata per tahun untuk pariwisata pada umumnya yaitu sebesar 4.6 persen per tahun. Sebagai bentuk wisata, Ekowisata mempunyai kekhususan tersendiri yaitu mengedepankan konservasi lingkungan, pendidikan lingkungan, kesejahteraan penduduk lokal, dan menghargai budaya lokal, sehingga Ekowisata banyak diminati wisatawan. Hal ini terjadi karena adanya pergeseran paradigma kepariwisataan internasional dari bentuk pariwisata masal (mass tourism) ke wisata minat khusus yaitu Ekowisata. Pengembangan Ekowisata tentu akan memberikan pengaruh terhadap kehidupan masyarakat, sehingga terjadi perubahan dalam aspek ekologi sosial dan ekonomi masyarakat setempat.

 
Tapenpah adalah sebuah desa yang berada di Kecamatan Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Berdasarkan data yang diperoleh dari website milik desa Tapenpah dan wawancara singkat dengan Kepala Desa Tapenpah, luas desa ini sekitar 25 km2 dengan populasi penduduknya berjumlah 1.216 jiwa per 31 Desember 2022, dan kepadatan 113 jiwa/km2. Jumlah penduduk Desa Tapenpah tahun 2022 berjumlah 1.216 jiwa, dimana laki-laki sebanyak 582 jiwa dan perempuan sebanyak 634 jiwa. Desa Tapenpah memiliki 8 Rukun Tetangga (RT), 4 Rukun Warga (RW) dan 3 dusun. Penduduk asli Timor Tengah Utara ialah suku Timor, Tetum, Dawan dan beberapa pendatang dari wilayah lain di Nusa Tenggara Timur maupun luar provinsi, demikian juga yang ada di desa ini.
Dibawah kepeminpinan Bapak Thomy Sikone – selaku Kepala Desa Tapenpah – pembangunan desa lumayan berkembang. Hal ini terlihat dari beberapa terobosan yang dilakukan oleh kepala Desa Tapenpah, antara lain: sistem administrasi berbasis online dan website desa. Salah satu hal yang menjadi fokus perhatian saat ini adalah di bidang sektor pariwisata. Berkat kerja keras seorang Kepala Desa, Thomy Sikone bersama masyarakat telah menyulap sebuah area di pinggiran kali Noenebu menjadi sebuah spot wisata eksotis yang kini banyak diminati pengunjung. Lokasinya sangat indah dan sejuk karena masih tergolong asli dan dikelilingi oleh pohon-pohon. Air di sepanjang aliran sungai tersebut juga belum tercemar oleh limbah sampah karena masyarakat masih memelihara dan menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. 
Pada hari Sabtu, 24 Februari 2024, siswa-siswi SMAK Fides Quaerens Intelectum Kefamenanu kelas XII Program Studi ilmu Sosial melaksanakan studi lapangan di Ekowisata di Desa Tapenpah. Rombongan siswa-siswi ini didampingi langsung oleh tiga orang guru yakni Bapak Matias Subani, M.Pd, Bapak Wandelinus Manikin, S.Fil, Gr dan Bapak Maximus Kalau S.Pd. Tujuan kunjungan ini adalah sebagai studi lapangan ilmu Sosiologi dalam kaitan dengan nilai-nilai budaya dan ritual kebudayaan lainnya yang masih dijaga dan diperlihara oleh masyarakat Dawan, khususnya masyarakat Desa Tapenpah.

 

Siswa-siswi yang turun lapangan untuk mempelajari Sosiologi dalam kegiatan "sosmamat" (Sosiologi Mengamati Masyarakat) disambut dengan sangat meriah oleh Kepala Desa dan seperangkatnya. Tema kegiatan "sosmamat" kali ini adalah: "kearifan lokal". Di desa Tapenpah mereka dapat mengamati secara langsung bagaimana pembangunan di desa dilakukan berbasis kearifan lokal masyarakat Dawan.
Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan wawacara khusus dengan kepala desa dan beberapa warga desa guna mengkaji ilmu Sosiologi dengan praktek-praktek kebudayaan yang ada dan berkembang di tengah masyarakat Desa Tapenpah. Kegiatan "sosmamat" inilah yang diharapkan dapat diterapkan oleh para siswa agar mereka mampu mengatasi berbagai masalah sosial yang timbul di masyarakat akibat arus globalisasi dan modernisasi berbasis kearifan lokal. Dalam kesempatan yang sama, Bapak Matias Subani, M.Pd selaku pimpinan rombongan mengatakan bahwa kunjungan ini dalam rangka “mengawinkan” antara yang abstraksi dan yang empirik; antara empirik dan abstraksi ada korelasi, selalu berjalan bersama demi sebuah kepentingan masa depan yakni ilmu pengetahuan, dan juga peserta didik itu sendiri. 
Sebagai informasi, letak lokasi Ekowisata di desa Tapenpah ini terbilang cukup strategis karena teletak dipinggiran jalan Trans nasional Kupang-Atambua-Dili; dan ini tentu saja sudah pasti memantik perhatian pengguna jalan tersebut. Selain dihiasi lampu kerlap-kerlip yang memanjakan mata, pada lokasi tersebut juga dilengkapi dengan suguhan alunan musik yang bisa diputar sesuai keinginan pengunjung, serta para pedagang kaki lima yang siap memenuhi permintaan pengunjung dengan makanan ala pangan lokal.
Berdasarkan hasil obrolan, Thomy (nama sapaan untuk Kepala Desa Tapenpah) mengungkapkan, pihaknya telah berusaha untuk memenuhi ekspektasi pengunjung sehingga di lokasi Ekowisata tersebut juga telah dilengkapi dengan kamar mandi dan tempat pembuangan sampah untuk menjaga agar kebersihan lokasi tersebut tetap terjaga. Ia menuturkan, saat ini setiap wisatawan yang berkunjung dikenakan biaya masuk sebesar Rp 3.500 per orang. Thomy berharap bahwa di waktu yang akan datang, lokasi Ekowisata Tapenpah ini akan terus dikembangkan dengan memperluas arealnya, dan akan menambah spot wisata baru yakni flying fox dan wisata kuliner lokal. Selain itu, Thomy juga menambahkan bahwa pihaknya bersama masyarakat sedang merencanakan untuk membuat area parkir sehingga tidak mengganggu arus lalulintas di wilayah tersebut.***

  LITERASI SEBAGAI BUDAYA SMAK FIDES smakfideskefa.blogspot.com -  Undang-undang Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan, pada pasal 4 b...